P a s c a   S a r j a n a   U n h a s
Admin SPs · 29 Oktober 2026

Saat Sains Bertemu Nilai Islam, SPs UNHAS Hadirkan Profesor dari IIUM Malaysia

MAKASSAR, 29 Oktober —  Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (SPs UNHAS) menghadirkan Prof. Abdurezak Abdulahi Hashi, Ph.D., dari Department of Biotechnology, Kulliyyah of Science, International Islamic University Malaysia (IIUM), dalam kegiatan Guest Lecture bertema “Islamic Bioethics” yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (29/10/2026). Kuliah tamu ini membahas peran nilai-nilai Islam dalam membimbing pengambilan keputusan di bidang medis dan bioteknologi, terutama di tengah perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat.

Kemajuan ilmu kedokteran dan bioteknologi membuka berbagai peluang untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan pertanyaan penting: apakah setiap hal yang dapat dilakukan secara ilmiah selalu tepat untuk dilakukan? Pertimbangan mengenai keselamatan, martabat manusia, manfaat, dan risiko menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.

Persoalan inilah yang menjadi salah satu pokok bahasan dalam Islamic Bioethics. Dalam pemaparannya, Prof. Abdurezak menjelaskan bahwa perspektif bioetika Islam menempatkan wahyu sebagai landasan etika, dengan penghormatan terhadap kehidupan dan martabat manusia sebagai prinsip utama. Kebebasan ilmiah tetap memiliki ruang, tetapi pelaksanaannya perlu disertai tanggung jawab moral dan pertimbangan terhadap dampaknya bagi masyarakat.

“Meskipun kita menjunjung tinggi kebebasan ilmiah (scientific freedom), kebebasan tersebut tetap harus berada di dalam koridor etika dan nilai-nilai moral yang ditetapkan oleh agama demi menjaga kemaslahatan publik,” ungkap Prof. Abdurezak.

Ia juga membahas pentingnya menimbang manfaat dan risiko dalam praktik medis. Dalam perspektif ini, tindakan yang dilakukan tidak cukup hanya mempertimbangkan manfaat yang mungkin diperoleh, tetapi juga perlu memperhatikan potensi bahaya yang dapat ditimbulkan. Pembahasan tersebut turut membuka ruang perbandingan dengan bioetika konvensional yang menekankan empat prinsip, yakni otonomi, berbuat baik, tidak membahayakan, dan keadilan.

Mewakili Dekan SPs UNHAS, Prof. Sukri Palutturi, S.K.M., M.Kes., MSc.PH., Ph.D., Ketua Gugus Penjaminan Mutu dan Peningkatan Reputasi (GPM-PR), Prof. Dr. Tuti Bahfiarti, S.Sos., M.Si., menyampaikan apresiasi atas kesediaan Prof. Abdurezak berbagi pengetahuan dalam kegiatan tersebut. Ia juga berharap pertemuan akademik ini dapat menjadi awal bagi kunjungan langsung dan kerja sama pada masa mendatang.

“Terima kasih sudah berkenan memberikan kuliah tamu. Semoga bisa datang langsung ke Sekolah Pascasarjana UNHAS di lain waktu dan bekerja sama dalam bidang akademik,” ujar Prof. Tuti.

Melalui kegiatan ini, SPs UNHAS memperluas ruang diskusi akademik mengenai hubungan antara sains, etika, dan nilai-nilai Islam. Pembahasan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya perlu dilihat dari apa yang dapat dicapai, tetapi juga dari bagaimana ilmu tersebut dikembangkan dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab bagi manusia.