Guest Lecture SPs UNHAS Hadirkan Akademisi UKM, Pemetaan Sosial dalam Transformasi Lahan Jadi Isu Utama
MAKASSAR, 28 Oktober — Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (SPs UNHAS) menghadirkan Prof. Madya Dr. Azima Binti Abdul Manaf, Senior Lecturer pada Developmental Science Program, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), dalam Guest Lecture yang membahas peran strategis pemetaan sosial dalam mengantisipasi dampak transformasi lahan berorientasi pasar. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom, Rabu (28/10/2026), ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan hak dan kebutuhan masyarakat lokal dalam proses pembangunan.
Dalam sambutan pembuka, Dekan SPs UNHAS, Prof. Sukri Palutturi, S.K.M., M.Kes., MSc.PH., Ph.D., menegaskan bahwa transformasi lahan tidak dapat hanya dipandang dari perspektif ekonomi, tetapi juga perlu mempertimbangkan kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang bergantung pada lahan tersebut.
“Kita perlu memahami bahwa tanah bukan sekadar ruang atau komoditas ekonomi, melainkan tempat di mana kehidupan, identitas, dan budaya masyarakat berpijak. Oleh karena itu, setiap transformasi lahan harus dilakukan dengan memetakan suara komunitas agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga berkelanjutan dan adil bagi semua pihak,” ungkap Prof. Sukri.
Sementara itu, Prof. Azima menjelaskan bahwa transformasi lahan untuk kepentingan pasar dan investasi dapat membuka peluang ekonomi, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan sosial, seperti ketimpangan penguasaan lahan, hilangnya akses masyarakat terhadap sumber daya tradisional, hingga konflik akibat kepentingan yang tidak terakomodasi.
Menurutnya, pemetaan sosial (social mapping) menjadi instrumen partisipatif untuk memahami kondisi sosial-ekonomi, aset, kebutuhan, serta hubungan antaranggota masyarakat. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar perencanaan pembangunan, mitigasi risiko sosial, dan evaluasi perubahan kesejahteraan masyarakat setelah transformasi lahan berlangsung.
“Pemetaan sosial adalah instrumen krusial untuk menyeimbangkan antara tuntutan pasar dan hak masyarakat. Dengan memetakan aset, hubungan, dan kebutuhan komunitas, kita bisa menciptakan sistem peringatan dini untuk menghindari konflik sosial dan memastikan bahwa masyarakat lokal menjadi subjek, bukan sekadar objek dalam proses pembangunan,” jelas Prof. Azima.
Ia juga menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan agar kebijakan penggunaan lahan lebih inklusif dan sesuai dengan kebutuhan lokal. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, dampak pembangunan dapat dievaluasi tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari perubahan kondisi sosial dan kesejahteraan rumah tangga.
Guest Lecture yang dimoderatori oleh Dr. Nur Rahma, S.Si., ini menjadi forum pertukaran pengetahuan akademik lintas negara mengenai tantangan pembangunan dan pengelolaan dampak sosial transformasi lahan. Melalui kegiatan ini, SPs UNHAS mendorong penguatan perspektif sosial dalam perencanaan pembangunan agar kepentingan ekonomi dapat berjalan seiring dengan perlindungan hak masyarakat dan prinsip keberlanjutan.


