Dukung Penerapan SDGs, Tim SPs Unhas Latih KWT Masagenae Parepare Olah Cabai Zero Waste
PAREPARE — Fluktuasi harga cabai dan tingginya potensi sisa hasil panen yang terbuang kerap menjadi tantangan utama bagi para petani lokal. Menjawab persoalan tersebut sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan & Kemandirian Pangan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta SDG 15 (Ekosistem Daratan), tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan program pemberdayaan pada bulan Agustus 2026 di Kelurahan Lumpue, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Sulawesi Selatan.
Kegiatan yang didukung oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktisaintek) ini mengusung tema "Diversifikasi Produk Cabai untuk Meningkatkan Kemandirian Pangan melalui Penerapan Prinsip Zero Waste dan Ekonomi Sirkular pada KWT Masagenae". Tim pelaksana SPs Unhas dipimpin oleh Dr. Hafizhah Al Amanah, S.Si., M.Si. bersama Prof. Dr. Ir. Siti Halimah Larekeng, SP., MP., (Dosen Fakultas Kehutanan UNHAS),dan Dr. Andi Muliarni Okasa, S.P., serta melibatkan mahasiswa Unhas.
Program ini memberikan solusi praktis mengolah cabai segar yang rentan rusak menjadi produk cabai bubuk premium tanpa pewarna buatan yang aman dikonsumsi. Inovasi ini secara efektif menekan angka sisa hasil panen yang membusuk saat panen raya (food loss) sehingga mendukung penguatan ketahanan dan kemandirian pangan warga lokal secara berkelanjutan.
Melalui pelatihan hilirisasi komoditas ini, para anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Masagenae dibekali keterampilan untuk menciptakan produk bernilai tambah ekonomi tinggi. Cabai bubuk yang dihasilkan memiliki harga jual yang jauh lebih stabil dibandingkan cabai segar, sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan mendorong kemandirian ekonomi warga di Kelurahan Lumpue.
"Selama ini kalau panen raya dan harga di pasar sedang anjlok, banyak cabai yang akhirnya membusuk dan terbuang begitu saja. Kami rugi tenaga dan biaya. Dengan adanya pelatihan pembuatan cabai bubuk dari tim Unhas ini, kami jadi tahu cara mengawetkan cabai sekaligus menaikkan harga jualnya," ungkap Ibu Rahmadanih, salah satu anggota KWT Masagenae.
Sejalan dengan upaya perlindungan ekosistem daratan, program ini mengedukasi warga untuk menerapkan prinsip Zero Waste (bebas sampah) dan ekonomi sirkular. Seluruh bagian cabai dimanfaatkan secara maksimal dalam proses produksi guna menekan sisa buangan limbah organik. Langkah ini memastikan manajemen limbah berjalan dengan baik demi mendukung kelestarian lingkungan sekitar.
Melalui pendampingan dari hulu ke hilir lalu ke tahap pemasaran, tim SPs Unhas berkomitmen mewujudkan produk cabai bernilai, pangan mandiri, lingkungan lestari, serta ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat Parepare.

