P a s c a   S a r j a n a   U n h a s
Admin SPs · 6 November 2026

Dekan SPs UNHAS Dorong Kepemimpinan Lintas Sektor untuk Wujudkan Kota Sehat Berkelanjutan

CIMAHI —  Kepemimpinan yang kuat dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mewujudkan kota sehat di tengah meningkatnya persoalan kesehatan perkotaan. Hal tersebut disampaikan Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (SPs UNHAS), Prof. Sukri Palutturi, S.K.M., M.Kes., MSc.PH., Ph.D., saat memberikan kuliah tamu di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kesehatan Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), Cimahi, Jawa Barat, Selasa (3/11/2026).

“Healthy Cities: Kepemimpinan, Kebijakan Multisektor, dan Inovasi untuk Penataan Masalah Kesehatan Perkotaan” menjadi tema dalam kuliah tamu tersebut, Prof. Sukri menjelaskan bahwa persoalan kesehatan di perkotaan tidak lagi dapat ditangani hanya melalui penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan. Urbanisasi, pencemaran lingkungan, perubahan iklim, penyakit tidak menular, hingga ketimpangan sosial membutuhkan pendekatan pembangunan yang melibatkan berbagai sektor.

“Kota sehat tidak semata-mata dibangun dengan memperbanyak rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan. Kota sehat dibentuk melalui kepemimpinan yang kuat, kebijakan lintas sektor, partisipasi masyarakat, serta inovasi yang mampu menciptakan lingkungan kehidupan yang lebih sehat dan berkeadilan,” tegas Prof. Sukri.

Ia menjelaskan, konsep Healthy Cities yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO) menempatkan kesehatan sebagai bagian dari keseluruhan kebijakan pembangunan. Artinya, sektor transportasi, perumahan, tata ruang, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan hidup juga memiliki peran dalam menentukan kualitas kesehatan masyarakat.

Di Indonesia, pendekatan tersebut antara lain diterapkan melalui program Kabupaten/Kota Sehat (KKS). Pelaksanaannya membutuhkan koordinasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal. Kepemimpinan yang kolaboratif diperlukan agar berbagai kebijakan dan sumber daya dapat bergerak menuju tujuan yang sama.

Prof. Sukri juga mengangkat program Lorong Sehat di Kota Makassar sebagai salah satu contoh inovasi berbasis komunitas. Program tersebut mengintegrasikan kebersihan lingkungan, penghijauan, dan partisipasi warga dalam menciptakan kawasan permukiman yang lebih sehat. Menurutnya, upaya membangun kota sehat dapat dimulai dari lingkungan terkecil dengan melibatkan masyarakat secara aktif.

Gagasan tersebut memiliki relevansi dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, Tujuan 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta Tujuan 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Ketiganya berkaitan erat dengan upaya meningkatkan kesehatan masyarakat, membangun lingkungan perkotaan yang inklusif dan tangguh, serta memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Melalui kuliah tamu ini, Prof. Sukri membawa perspektif akademik SPs UNHAS dalam diskusi mengenai tata kelola kesehatan perkotaan dan pembangunan berkelanjutan. Partisipasi akademisi dalam forum tersebut sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra pengembangan pengetahuan, inovasi, dan kebijakan yang responsif terhadap tantangan masyarakat.