P a s c a   S a r j a n a   U n h a s
Kembangkan Prototipe Organ-on-a-Chip Terintegrasi IoT, Riset Mahasiswa SPs UNHAS Diuji Kepala BPOM RI
Super User · 15 Oktober 2026

Kembangkan Prototipe Organ-on-a-Chip Terintegrasi IoT, Riset Mahasiswa SPs UNHAS Diuji Kepala BPOM RI

MAKASSAR — Pengembangan teknologi organ-on-a-chip sebagai model praklinis untuk mengevaluasi efek dan respons radioterapi pada jaringan manusia menjadi fokus penelitian Nitia Putri Maulana, mahasiswa Program Magister Teknik Biomedik Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (SPs UNHAS). Penelitian tersebut dipresentasikan dalam ujian akhir tesis yang berlangsung di Ruang 105 SPs UNHAS, Rabu (14/10/2026), dengan menghadirkan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., sebagai salah satu anggota tim penguji melalui platform zoom.

Tesis berjudul “Potensi Teknologi Organ-on-a-Chip sebagai Model Pra-Klinis untuk Evaluasi Efek dan Respons Radioterapi pada Jaringan Manusia dan Integrasinya dengan Telemedicine” ini mengkaji pengembangan prototipe perangkat biomedis yang dipadukan dengan sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT). Pendekatan tersebut diarahkan untuk mendukung pengukuran dan pemantauan parameter secara real-time sebagai bagian dari pengembangan model praklinis untuk penelitian radioterapi.

Dalam penelitian ini, Nitia merancang dan memfabrikasi prototipe organ-on-a-chip berbahan polymethyl methacrylate (PMMA) berukuran 80 × 40 mm. Perangkat tersebut dilengkapi mikrokanal berbentuk serpentin dan mekanisme reversible mechanical clamping yang dirancang untuk menjaga integritas perangkat serta mencegah kebocoran.

Pengembangan perangkat juga mencakup integrasi sensor DS18B20 dan TDS dengan sistem elektronik berbasis ESP32 serta platform MQTT–HiveMQ Cloud. Integrasi ini memungkinkan data pengukuran dikirimkan dan divisualisasikan secara real-time melalui dashboard. Berdasarkan hasil pengujian yang dipaparkan, sistem transmisi mencatat packet loss sebesar 0% dari 80 data yang diuji. Penelitian juga mengevaluasi respons suhu terhadap paparan UV-C selama 15 menit serta konsistensi hasil pengukuran suhu dan konduktivitas.

Meski menunjukkan capaian pada aspek rancang bangun dan kinerja teknis, penelitian ini masih memerlukan pengembangan lebih lanjut sebelum dapat digunakan untuk mengevaluasi respons biologis jaringan manusia terhadap radioterapi. Dalam bagian keterbatasan penelitian, Nitia mencatat perlunya validasi menggunakan kultur sel hidup, penggunaan sumber radiasi yang lebih representatif terhadap praktik radioterapi klinis, serta pengujian stabilitas jangka panjang perangkat dan sistem komunikasi. Validasi melalui simulasi multifisika untuk mengkaji distribusi panas, dosis energi, dan aliran mikrofluida juga menjadi bagian dari kebutuhan pengembangan berikutnya.

Nitia dibimbing oleh Prof. Dr.-Ing. Ir. Faizal Arya Samman, S.T., M.T., IPU, AseanEng, ACPE, Guru Besar bidang Elektronika dan Sistem Digital, serta Dr. dr. Hasta Handayani Idrus, M.Kes., Peneliti Senior di Pusat Riset Biomedis, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Adapun tim penguji terdiri atas Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D.; Prof. Dr. Ir. Syafruddin Syarif, M.T.; dan Prof. Dr. dr. Irfan Idris, M.Kes. Turut hadir Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, dan Inovasi SPs UNHAS, Prof. Dr. dr. Marhaen Hardjo, M.Biomed., Ph.D.

Dalam pembahasan penelitian, Prof. Taruna Ikrar menyoroti potensi teknologi organ-on-a-chip sekaligus mengingatkan pentingnya aspek keamanan dalam pengembangannya. Salah satu hal yang menjadi perhatian ialah ekspektasi keamanan penggunaan material, termasuk kemungkinan munculnya reaksi alergi akibat penggunaan logam.

Masukan tersebut menempatkan aspek keamanan sebagai bagian penting dalam pengembangan teknologi biomedis. Selain mengevaluasi fungsi dan kinerja teknis perangkat, penelitian lanjutan perlu mempertimbangkan kompatibilitas biologis material yang digunakan serta respons yang mungkin timbul ketika perangkat dikembangkan untuk aplikasi yang lebih lanjut.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Faizal Arya Samman menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan keterlibatan Prof. Taruna Ikrar sebagai penguji. Ia berharap interaksi akademik yang terjalin dapat berlanjut menjadi ruang kolaborasi yang lebih luas.

“Tentu kita berharap bukan hanya di ujian ini kita berinteraksi, melainkan bisa bersama menyelesaikan masalah dan pengembangan instrumen alat-alat Biomedis,” ungkap Prof. Faizal.

Keterlibatan penguji dari berbagai latar belakang keilmuan dalam ujian tesis ini menjadi ruang evaluasi akademik sekaligus membuka peluang pertukaran perspektif mengenai pengembangan teknologi biomedis. Bagi SPs UNHAS, proses tersebut sejalan dengan upaya mendorong penelitian pascasarjana yang mempertemukan keahlian lintas disiplin dan berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.