Lewat Diaspora Berdampak, SPs UNHAS Tunjukkan Komitmen Percepatan Sustainable Development Goals (SDGs)
MAKASSAR — Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (SPs UNHAS) kembali memperluas jejaring riset internasionalnya melalui penyelenggaraan program Diaspora Berdampak Batch 1 Tahun 2026. Berlangsung di Smart Class SPs UNHAS pada Selasa (13/10/2026), forum akademik ini menghadirkan dosen asal Department of Pharmacology, School of Medicine, Case Western Reserve University, Amerika Serikat, Made Arianti K. Widjaja Adhi, Ph.D., untuk membedah potensi riset biofungsional dalam menjawab tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Menariknya, diskusi tidak berhenti pada tataran teori farmakologi semata. Sesi interaktif justru berkembang menjadi ruang dialog lintas disiplin yang menghubungkan sains canggih dengan persoalan riil di tengah masyarakat.
Salah satu sorotan muncul saat Dr. Sherly Wulandari, S.K.M., MPH. melontarkan gagasan mengenai peluang pengembangan riset doktoralnya di bidang kesehatan lingkungan. Pertanyaan ini membuka perspektif baru tentang bagaimana riset lingkungan dapat dikaji ulang melalui kacamata kimia material dan farmakologi guna menghasilkan solusi yang lebih komprehensif.
Diskusi kian menukik saat Dr. Halisah, S.S.T., M.Keb. mengangkat isu krusial mengenai pencegahan stunting di daerah. Merespons hal tersebut, Made Arianti menekankan bahwa kecanggihan riset ilmiah harus diimbangi dengan edukasi langsung kepada masyarakat di tingkat akar rumput.
“Permasalahan utama di Indonesia sering kali berakar pada edukasi. Sangat penting memperkuat masyarakat dengan wawasan, dan kitalah sebagai akademisi yang harus turun langsung memberikan penyuluhan,” tegas Made Arianti.
Lebih jauh, Made Arianti menyoroti keterkaitan erat antara intervensi stunting dengan kebiasaan pengelolaan keuangan rumah tangga. Ia mencontohkan fenomena di sebagian komunitas nelayan, di mana peningkatan pendapatan saat musim panen ikan melimpah sering kali tidak diimbangi dengan alokasi belanja gizi keluarga yang memadai.
Menurutnya, tantangan utama terletak pada penentuan prioritas pengeluaran. Peningkatan ekonomi keluarga tidak secara otomatis memperbaiki status gizi anak jika tidak dibarengi dengan pemahaman mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan pangan primer. Pembahasan ini memperluas wawasan para peserta bahwa penanganan krisis kesehatan masyarakat memerlukan pendekatan holistik—menggabungkan ilmu gizi, edukasi perilaku, dan literasi keuangan keluarga.
Antusiasme peserta dalam menghubungkan riset akademis dengan dinamika lapangan membuktikan pentingnya wadah diskusi multidisiplin. Melalui program Diaspora Berdampak, SPs UNHAS tidak hanya memfasilitasi transfer pengetahuan dari ilmuwan dunia, tetapi juga memastikan bahwa setiap riset internasional yang didiskusikan tetap peka dan berakar pada solusi masalah lokal.
Penyelenggaraan program Diaspora Berdampak ini sekaligus menegaskan komitmen nyata SPs UNHAS dalam mendukung percepatan Sustainable Development Goals (SDGs). Inisiatif ini berkontribusi langsung pada SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui riset sains pangan serta penanganan stunting, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) lewat penguatan edukasi masyarakat berbasis sains, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui jaringan kolaborasi akademis internasional bersama Case Western Reserve University, Amerika Serikat.