MAKASSAR — Ketika mendengar kata lensa, sebagian orang mungkin langsung tertuju pada benda yang bernama kamera. Lensa yang berfungsi untuk merekam ataupun membidik objek dari setiap momen yang ada dihadapannya. Di balik setiap gambar, terdapat sudut pandang, pilihan, dan cerita tentang siapa yang dilihat serta bagaimana mereka ingin dilihat. Gagasan tersebut menjadi salah satu konteks dalam Guest Lecture Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (SPs Unhas) bertajuk “Communities Behind the Lens”, yang menghadirkan Associate Professor Shannon Switzer-Swanson, Ph.D., National Geographic Explorer, Rabu (9/9/2026).

Melalui tema “Communities Behind the Lens”, diskusi diarahkan pada pertanyaan mendasar: siapa yang menceritakan kisah sebuah komunitas dan bagaimana lensa yang digunakan membentuk apa yang kemudian dilihat oleh publik?
Guest lecture ini dipandu oleh Dr. Abigail Mary Moore, B.Sc., M.Sc, seorang dosen dan peneliti SPs UNHAS. Kuliah umum tersebut mengajak mahasiswa, akademisi, peneliti, dan profesional mengeksplorasi bagaimana cerita sebuah komunitas dibangun melalui visual, sekaligus melihat bagaimana perspektif pembuat cerita dapat memengaruhi representasi terhadap pengalaman hidup masyarakat.
Dalam pemaparannya, Shannon memperkenalkan pendekatan photovoice, yakni penggunaan fotografi sebagai medium bagi masyarakat untuk merekam dan merefleksikan kekuatan maupun persoalan yang mereka hadapi. Pendekatan ini tidak menempatkan masyarakat semata-mata sebagai objek dokumentasi, tetapi memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan perspektif berdasarkan pengalaman sendiri.
Salah satu gagasan yang ditekankan dalam presentasi adalah bahwa visual dapat menjadi pintu masuk untuk membangun dialog. Melalui foto, masyarakat dapat mendiskusikan persoalan yang dianggap penting, baik secara individual maupun bersama-sama dalam komunitas.
Pendekatan tersebut memiliki tiga tujuan utama, yakni memungkinkan masyarakat merekam dan merefleksikan kekuatan serta kekhawatiran komunitasnya, mendorong dialog kritis melalui diskusi terhadap foto, serta menjangkau para pembuat kebijakan.

Gagasan tersebut dirangkum dalam sebuah prinsip yang diperkenalkan Shannon sebagai “VOICE” (Voicing Our Individual & Collective Experience). Prinsip ini menempatkan pengalaman individual dan kolektif sebagai bagian penting dalam proses membangun pengetahuan mengenai sebuah komunitas.
Dengan demikian, proses visual storytelling tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang terlihat, tetapi juga bergerak pada pertanyaan mengenai siapa yang berbicara, pengalaman siapa yang direpresentasikan, dan untuk tujuan apa cerita tersebut disampaikan.
Dalam sesi tanya jawab, hal menarik datang dari Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Pascasarjana UNHAS, Prof. Dr. Ir. Nadiarti, M.Sc yang terlihat antusias menanyakan kepada pemateri terkait bagaimana gagasan ilmiah hasil dari visual storytelling dapat dipublikasikan melalui jurnal terindex scopus.

Dalam presentasinya, Shannon menunjukkan contoh penerapan photovoice melalui studi komparatif pada dua desa pesisir di Kenya dalam konteks konservasi laut dan marine protected areas (MPAs).
Melalui foto yang dihasilkan anggota komunitas, perhatian tidak hanya diarahkan pada manfaat langsung kawasan konservasi, tetapi juga pada aspek mata pencaharian alternatif dan dukungan yang diterima masyarakat.
Bagi lingkungan akademik, pendekatan tersebut membuka peluang untuk melihat pengalaman masyarakat sebagai sumber pengetahuan yang dapat didokumentasikan, didiskusikan, dan dikomunikasikan kepada pihak yang lebih luas, termasuk pembuat kebijakan.
Guest lecture ini sekaligus memperkuat ruang pembelajaran interdisipliner di SPs Unhas dengan mempertemukan perspektif akademik, pengalaman lapangan, dan pendekatan visual dalam memahami realitas komunitas.
Pada akhirnya, Communities Behind the Lens mengajak peserta untuk melihat kembali makna sebuah “lensa”. Sebab, apa yang tampak dalam sebuah gambar tidak pernah sepenuhnya terlepas dari perspektif orang yang berada di baliknya. Ketika masyarakat diberi kesempatan untuk memegang lensa dan menceritakan pengalamannya sendiri, visual tidak hanya menjadi alat untuk melihat komunitas, tetapi juga menjadi ruang bagi komunitas untuk menyuarakan dirinya.

