
SYDNEY, AUSTRALIA — Dalam forum internasional yang mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, industri, dan organisasi nonpemerintah dari berbagai negara di University of Technology Sydney, Australia, 23–25 September 2026, UTS Aerial function Centre, Sydney, NSW Australia. UTS Aerial function Centre, Sydney, NSW, Australia.
Ketua Gugus Penjaminan Mutu dan Peningkatan Reputasi (GPM-PR) SPs UNHAS, Prof. Dr. Tuti Bahfiarti, S.Sos., M.Si. hadir memaparkan kajian mengenai kearifan masyarakat adat melalui pendekatan komunikasi lingkungan. Penanaman nilai-nilai kearifan lokal untuk melindungi ekosistem hutan sebagai sumber kehidupan sehingga sirkular ekonomi masyarakat berkelanjutan. Nilai-nilai kearifan lokal merupakan aset budaya yang mampu memberikan solusi atas persoalan keberlanjutan sosial dan lingkungan. Masyarakat adat menjadi teladan dalam melestarikan tradisi di era globalisasi.
“Kearifan lokal merupakan pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Karena itu, praktik-praktik yang diwariskan dalam masyarakat adat penting untuk dilihat sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.” ujar Prof. Tuti dalam pemaparannya di University of Technology Sydney.

CECE 2026 diselenggarakan oleh University of Technology Sydney (UTS) dengan menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi, pemerintah, dan praktisi yang membahas berbagai isu terkait ekonomi sirkular, perubahan iklim, dan lingkungan. Forum ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus membuka peluang jejaring dan kolaborasi lintas sektor dan negara.
Kajian yang disampaikan Prof. Tuti juga memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) ke-13, Penanganan Perubahan Iklim, yang termasuk dalam Pilar Pembangunan Lingkungan. Penguatan nilai dan praktik kearifan lokal masyarakat adat dalam menjaga ekosistem dapat menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim.
Bagi SPs UNHAS, kehadirannya dalam International Conference on Circular Economy for Climate and Environment (CECE) 2026 menjadi ruang untuk memperkenalkan perspektif keilmuan dari Indonesia dalam percakapan global mengenai lingkungan dan keberlanjutan. Konferensi ini juga dapat memfasilitasi pertukaran temuan penelitian, jejaring antarpeneliti dan mendorong kolaborasi internasional yang memacu inovasi dan kemajuan dalam penelitian terkait ekonomi sirkular dan lingkungan.

